Sabtu, 18 Agustus 2007

Harga sebuah potret

Seorang pedagang gambar asongan mendatangi sebuah kedai nasi di daerah yang cukup rawan kejahatan.
Ia melirik ke sekitar ruangan kedai untuk memastikan apakah di situ sudah ada potret seorang angkatan atau tidak. Ternyata tidak ada.
“Buk, mau beli potret?”
“Potret apaan, tuh?”
“Yang ini kolonel, yang itu brigjen”
“Berapa harganya?”
“Yang ini 20 ribu, yang itu 30.”
“Wah, gagahnya, aku beli yang ini.”
Setelah dibayar ia meminta kepada suaminya untuk memasang di atas dinding menghadap ke pintu masuk. Suaminya pun menyetujuinya. Setiap hari potret itu dipandangi oleh ibu muda itu dengan penuh arti.
“Sudah hebat Uda kini, ya?. Seandainya keluargaku tak menolak lamaran Uda dulu, tentu aku sudah jadi istri kolonel.” Wanita itu berkata dalam hatinnya sambil mengenang kisah cintanya bersama mantan kekasihnya yang kini sudah jadi kolonel itu.

Tidak ada komentar: