Sabtu, 18 Agustus 2007

Lajulah diskotikku

Panas, berhimpit-himpitan, musik mengalun dengan kerasnya. Diskotikku meluncur membelah terik matahari siang. Dengan karung terigu di tangannya Pak tua berteriak-teriak sambil membalikkan badan dan menyelip di antara himpitan manusia menuju pintu belakang belakang.
Siko cie, siko cie” (di sini berhenti!).
Pak tua berteriak sambil batuk-batuk. Diskotikku berhenti bukan pada tempatnya.
Pakak mah!”. (budeg kamu, ya) Ia mengupat.
Bukan supirnyo nan pakak, Gaek. Musiknyo tu nan kareh.” (Musiknya terlalu keras) Celoteh seorang pemuda gondrong.
Pak tua turun sempoyongan, lalu menginjakkan kakinya di trotoar yang berlumpur karena sedang ada proyek penggalian kabel.

Tidak ada komentar: