Sabtu, 18 Agustus 2007

Si manis jembatan Siti Nurbaya

Biasanya nama-nama stadion, museum, gedung kesenian, dan lainnya identik dengan nama tokoh pahlawan, seniman, dan sejenisnya. Katakanlah gedung kesenian Taman Ismail Marzuki yang ada di Jakarta. Hal ini bertujuan untuk mengenang orang yang dianggap telah berkarya untuk masyarakat.
Seorang wartawan muda dari ibu kota begitu mendengar ada sebuah jembatan yang bernama Siti Nurbaya langsung mendatanginya ke lokasi. Lalu, di sana ia bertemu seorang gadis yang sedang termenung persis berdiri di tengah-tengan jembatan itu.
“Siapa Siti Nurbaya itu, Dik?”, olon wartawan itu. Gadis itu menerangkan bahwa Siti Nurbaya hanyalah seorang tokoh fiktif dalam sebuah novel, hidupnya selalu penuh cobaan dan penderitaan.
“Kenapa orang-orang di sini begitu simpati pada tokoh Nurbaya?”
Wanita muda itu bercerita bahwa dahulu nasib wanita Minangkabau begitu memprihatinkan persis seperti yang pernah dialaminya. Ia pun bercerita tentang kisah dirinya sambil menahan linangan air mata.
“Maaf, boleh tahu nama Adik?” tanya wartawan itu.
“Nama saya Nur.” Jawabnya singkat.
Ketika wartawan itu mau bertanya lagi tentang nama lengkapnya sambil mencatat di sebuah memo kecil, ia tampak kehilangan akal karena gadis itu tiba-tiba saja menghilang.
"Katanya namanya Nur..., Nurbaya?, iichk toloong!"

Tidak ada komentar: