Jumat, 17 Agustus 2007

Tangisan seorang ustad cilik

Selama bulan suci Ramadhan biasanya mesjid-mesjd ramai dikunjungi jamaah. Para ustad pun sibuk dibuatnya. Tak terkecuali ustad cilik, mereka pun ikut memeriahkan ceramah tarawih.
Suatu ketika, Ada seorang ustad cilik yang baru berumur 7 tahun, ia diminta mengisi ceramah di suatu mesjid di komplek pensiunan. Ketika memberikan ceramah ia lupa pada ayat-ayat Al-Quran yang sebelumnya sudah dihapalnya. Ia berusaha mengingatnya dengan mengulang-ulang bagian depan ayat tersebut. Akhirnya, ia menyerah, tidak dapat melanjutkan ceramahnya. Lalu terdiam dan akhirnya tak bisa lagi menahan tangisannya. Ia pun turun dari mimbar dan langsung duduk sambil menunduk.
Seorang gharim yang sudah manula berdiri lalu mengambil mikrofon.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, hadirin semuanya, saya begitu terharu. Subhanallaah… Kita, yang sudah tua-tua ini saja belum tentu bisa mengeluarkan air mata ketika kita membaca ayat-ayat suci Al-Quran...” Komentarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu anak kecil itu pun berusaha membuang rasa malu sambil mencoba melihat wajah gharim yang memuji-mujinya terus.

Tidak ada komentar: